Hal-hal yang kita pelajari sebelum kita lahir

Biasanya diyakini bahwa kelahiran adalah saat di mana hidup kita dimulai sebagai makhluk yang mampu memperoleh otonomi mereka. Mudah untuk berpikir bahwa kehidupan sosial manusia dimulai ketika tidak ada lagi pemisahan fisik antara kita dan orang lain.

Ketika kita bisa menghirup udara yang sama, melihat hal yang sama dan menatap mata satu sama lain. Semua ini sangat intuitif dan tampaknya wajar bahwa memang seharusnya demikian, tetapi itu tidak benar.

Jauh sebelum meninggalkan rahim ibu kita, kita sudah memiliki kemungkinan untuk mempelajari berbagai hal tentang lingkungan tempat kita akan hidup suatu hari nanti, seperti yang ditunjukkan oleh berbagai eksperimen.

Persepsi dimulai bahkan di dalam rahim

Diketahui bahwa kita mampu mengenali vokalisasi ibu jauh sebelum kelahiran. Ini sudah menjadi contoh pembelajaran, karena berkaitan dengan pengetahuan yang dibentuk melalui pengalaman berulang dan dengan tujuan praktis (mengenali orang yang akan merawat kita begitu kita lahir).

Bahkan, disarankan agar ibu berbicara dengan bayinya yang belum lahir sehingga sejak saat pertama mereka memiliki rangsangan yang berbeda dan dapat melatih keterampilan mereka yang berbeda. Namun, fenomena ini hanyalah salah satu contoh dari banyak cara di mana pengalaman membentuk perilaku kita selama kehamilan.

Pengenalan suara tidak terbatas pada suara orang di sekitar. Ini dapat diperluas ke suara sehari-hari lainnya selama bulan-bulan kehamilan.

Misalnya, ada bukti bahwa bayi yang belum lahir dapat mengenali musik dari serial televisi yang sering ditonton ibu mereka. Selain itu, bayi tidak hanya dapat mengenali suara ibunya, tetapi juga baunya.

Menariknya, bayi yang baru lahir lebih suka bau keringat jika itu bau ibunya. Bayi berusia beberapa minggu bereaksi sangat kuat ketika terkena bau cairan ketuban di mana mereka telah dibungkus.

Fakta ini dapat memberikan gambaran tentang kunci yang memungkinkan kita mengenali bau ibu pada benda-benda yang ditinggalkannya. Di luar indera pendengaran dan penciuman, sentuhan juga berperan dalam pembelajaran selama kehamilan.

Sebuah penyelidikan baru-baru ini yang hasilnya telah dipublikasikan di PLoS ONE menunjukkan bagaimana janin cenderung merespon belaian yang dilakukan ibu di perutnya dengan melakukan sesuatu yang serupa dengan tubuhnya. Faktanya, bayi-bayi yang dijadikan sampel merespons lebih banyak sentuhan ini daripada suara ibu, dan mereka melakukannya dengan menyentuh dada mereka sendiri dengan cara yang mirip dengan yang dilakukan orang lain di sisi lain rahim.

Para peneliti percaya bahwa ini adalah upaya untuk berkomunikasi dengan ibu.

investigasi berlanjut

Ini adalah beberapa kesimpulan yang telah dicapai secara eksperimental, tetapi kemungkinan ada contoh lain dari pembelajaran sebelum kelahiran yang belum ditemukan. Secara keseluruhan, penyelidikan ini menunjukkan bahwa rahim adalah lingkungan yang valid untuk belajar, bahkan jika kita melakukannya bahkan sebelum kita mulai berusia bertahun-tahun.

Referensi bibliografi:

  • Beauchamp, GK, Katarina, K., Yamazaki, K., Mennella, JA, Bard, J.

    dan Boyse, EA (1995). Bukti menunjukkan bahwa jenis bau ibu hamil adalah gabungan dari jenis bau ibu dan janin.

    PNAS, 92, hal. 2617 – 2621.

  • Hepper, PG (1988).

    Kecanduan “sabun” janin. Lancet, 23(2), hlm.

    1347 – 1348.

  • Marx, V. dan Nagy, E.

    (2015). Respons Perilaku Janin terhadap Suara dan Sentuhan Ibu.

    PLoS ONE, dilihat di sini.

Related Posts